Melati Putih
Dikala sang waktu tak dapat menakhlukkan rindu dan disaat rasa rindu terus menghantui. Tak tau sampai kapan rasa itu ada, sebuah harapan akan terbalasnya tak henti – hentinya untuk diucapkan, namun apa daya, semua itu adalah kuasa tuhan. Hidup di dunia merupakan anugerah yang terindah, dan dapat merasakan cinta membuat dunia ini jauh lebih indah.
Andika Fernanda adalah seorang pemuda yang baik, taat beribadah dan juga seorang yang penyayang, nggak hanya sayang sama ortu dia, tapi sayang sama seorang cewek, cewek itu adalah Melati.
Melati adalah sebuah nama seorang gadis yang sangat sederhana, namun dia amat cantik. Gadis ini suka sekali sama bunga melati, seperti juga namanya itu. Gadis ini merupakan sosok yang banyak dikagumi oleh orang lain, nggak hanya karena kecantikan wajah dia, namun orang – orang lebih kagum karena kebaikan hati dia.
Dua insan yang saling terpana asmara, sebuah ungkapan yang bisa dituangkan untuk Dika dan Melati. Gimana nggak, mereka terlihat saling sayang, meskipun nggak terucap dari bibir merea. Dari sorot mata Dika maupun Melati, terlihat jelas kalau rasa itu memang ada. Mungkin rasa itu tumbuh jauh sebelum mereka mengerti apa yang namanya cinta, karena mereka udah ketemu dari mereka masih kanak-kanak, jadi mereka udah lama sekali saling kenal.
Di hari Minggu yang cerah ini mereka ketemu di taman kota, seperti biasa, mereka cuma pengen nikmatin hari libur mereka. Di bangku taman itu.
“Mel kamu udah punya cowok ta?” Tanya Dika tiba-tiba.
“Kok tumben nanya gitu, kenapa emangnya Dik?” Jawab Melati dengan heran.
“Nggak ada apa-apa kok, cuma pengen tau aja, dan mungkin ntar cowok kamu marah lagi kalo aku ngajak kamu mingguan…”
“Hehehehe ada-ada aja kamu itu, aku nggak punya cowok kok, aku nggak pengen pacaran tuh..” Melati ketawa karena tingkah aneh temennya itu.
“Kalo jadi pacarku mau nggak?” Dika tiba-tiba ngomong serius sama Melati.
“Apa? Nggak mau ah aku, masak aku punya cowok kayak gini, nggak level…” Jawab Melati dengan sadisnya.
“Jahat banget sih kamu, ayolah… Mau ya jadi pacarku??”
“Em…. Aku piker-pikir dulu dech…”
“Wah dianggep serius nich… nggak kok, aku cuma bercanda.. nggak mungkin banget kamu bisa suka sama aku..” Dika langsung jelasin keisengan dia itu.
Melati diam saja, dia cuma tunjukin senyum manis dia. Dalam hati dia sebenernya berharap kalau Dika emang beneran bilang kayak gitu sama Melati, tapi apa boleh buat. Semuanya seperti mimpi yang nggak mungkin bisa jadi kenyataan.
Berjam – jam mereka main, nggak hanya di taman itu saja, mereka berdua keliling – keliling kota buat nikmatin keindahan kota. Wajah mereka berdua kelihatan seneng banget, terutama Dika, dia ngerasa nyaman banget deket sama Melati, kan Melati orang yang paling dia sayang sekarang, meskipun dia nggak bisa dapetin hati Melati sekarang, mungkin suatu hari nanti.
Setelah lama mereka main akhirnya mereka pulang ke rumah, Dika langsung nganterin Melati pulang, dan setelah itu Dika langsung pulang ke rumahnya.
***
Sesampainya dirumah dika masih kepikiran sama bercandaan dia tadi siang, bisa – bisanya dia bilang kayak gitu ke Melati. Tapi sebenernya dia pengen ungkapin perasaannya ke Melati, tapi dia takut untuk lakuin itu, mungkin butuh waktu lagi. Dan Dika tau kalau dia masih punya waktu banyak banget yang mau dihabisin sama Melati.
“Aku sayang kamu Melati..” Satu kalimat yang nganterin Dika terlelap dalam tidurnya.
Dika terlelap dan dia terbawa dalam sebuah mimpi. Di taman kota dengan orang yang dia sayangin.
“Dik aku juga sayang sama kamu. aku mau jadi pacar kamu.” Ucap gadis itu tiba-tiba.
“Beneran, maksih banget Melati, aku janji ngggak akan ngecewain kamu.” Ungkapan kegembiraan itu terpancar jelas dari wajah Dika.
“Iya aku percaya kok…”
Mereka berdua saling pelukan dengan penuh kasih sayang. Ternyata apa yang jadi harapan Dika selama ini bisa terwujud.
Tapi tak lama Dika langsung bangun dan dia baru sadar kalau itu cuma mimpi. Namun dalam benak Dika yakin kalau itu bukan cuma sebuah mimpi, itu semua bakal jadi kenyataan. Hal itu pun buat Dika lebih beraniin diri ngomong ke Melati tentang perasaan dia, tentu saja tetep butuh waktu.
***
Beberapa hari Dika berusaha cari tau lebih dalam tentang Melati, meskipun dia tau betul siapa Melati itu. Dari tiap hari dia sms dan telpon sampai dia tanya ke temen-temen Melati. Melati nanggepin Dika seperti biasa, tapi sebenernya Melati seneng kalau Dika lebih perhatiin dia.
Suatu siang akhirnya pertemuan itu pun terjadi. Nggak ada yang beda dari biasanya, Melati tetep kelihatan manis dengan syal putih yang selalu dia pakai, dan Dika juga tetep kelihatan seperti cowok yang nggak kebanyakan gaya. Di suatu tempat yang nggak asing lagi, yaitu taman kota. Di bangku yang biasa mereka duduki.
“Dika aku pengen cerita..” Melati mulai pembicaraan.
“Cerita apa Mel?”
“Aku pengen Dik bikin ortuku bahagia, gimana ya caranya?”
“Loh bukannya kamu udah bikin mereka bahagia Mel, selama kamu tetep jadi anak yang baik, pasti mereka udah bahagia banget kok.”
“Ya udah deh.. aku bakal tetep kok jadi anak yang baik buat mereka.”
“Gitu donk, itu baru Melatiku..”
“Apa? Melati kamu? Enak aja…”
“Mel, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu..”
“Ngomong apa? Ya silahkan!!”
“Aku pengen kamu jadi orang yang spesial buat aku Mel…!”
“Tuh kan mulai becanda lagi, udah donk becandanya…”
“Aku serius Mel., aku nggak becanda.. Jujur, aku sayang sama kamu, aku udah lama pendem perasaanku ini, tapi aku nggak berani buat ungkapin ke kamu..”
“Aku nggak tau Dik, ini terlalu cepet buat aku..”
“Aku nggak minta jawaban kamu sekarang kok, aku ngerti ini semua butuh waktu…”
“Iya…”
“Ya udah sekarang nggak usah dibahas lagi, aku pengen ngajak kamu beli bakso, mau nggak?”
“Em… boleh juga tuh.. Ayo deh…”
Mereka berdua langsung pergi, dan mereka berusaha buat lupain apa yang udah terjadi, Dika cuma pengen tunjukin kalau dia emang sayang sama Melati. Dan dia tetep optimis kalau dia bakal bisa milikin Melati.
***
Setelah beberapa Minggu akhirnya Melati punya niat buat kasih jawaban , Melati pengen ketemu sama Dika tiga hari lagi, yaitu hari Minggu. Dika ngersa seneng banget, dia ngerasa kalau mimpi dia selama ini bakalan terwujud.
Dan hari Minggu pun tiba, Dika dateng ke rumah Melati buat jemput Melati, tapi sayang, di rumah itu nggak ada siapa – siapa, kayaknya rumah itu ditinggal pergi jauh sama pemiliknya. Dika berusaha buat telpon Melati, tapi Hp melati nggak aktif, Dika bertanya – Tanya, kemana Melati? Apa jawaban yang bakal dia terima? Setelah nunggu beberapa jam tetep nggak ada hasilnya, akhirnya Dika pun pulang dengan penuh kecewa.
Tiap hari dia berusaha buat hubungin Melati, tapi tetep aja nggak bisa, sampai dia coba lihat di rumahnya, tetep aja nggak ada orang, gelisah itu datang, Dika berusaha tetep nunggu dan nunggu.
Sampai akhirnya di suatu malam Melati telpon Dika.
“Halo Dika…” Sapa Melati dari seberang.
“Melati kamu kemana aja selama ini, aku nyariin kamu?”
“Aku ke rumah kakek aku, maaf aku nggak sempet pamit sama kamu..”
“Iya, tapi kenapa Hp kamu juga nggak aktif?”
“Hp aku nggak aku bawa, jadi aku nggak bisa hubungin kamu, maafin aku ya…”
“Ya udah nggak pa pa, tapi kamu sekarang udah pulangkan?”
“Udah kok, ini tadi sore aku baru nyampek.”
“Ya udah kalo gitu, besok kita ketemu ya, aku pengen banget Mel ketemu sama kamu.”
“Iya, aku usahain”
“Ya udah kalo gitu, besok aku jemput kamu jam satu ya?”
“Oke.. udah dulu ya Dik, aku capek, mau istirahat dulu.”
“Ya udah.. met istirahat ya,, mimpi indah Melatiku…”
***
Keesokan harinya tepat jam satu Dika nyampe di rumah Melati, dan nggak usah nunggu lama akhirnya Melati keluar dan mereka langsung pergi. Mereka ke tempat biasa ketemu,, kemana lagi kalau bukan taman kota.
“Mel aku udah kangen banget sama kamu, aku khawatir banget sama kamu..” Dika yang nggak mau diem akhirnya ungkapin apa yang dia rasain.
“Ah kamu bisa aja, masak nggak ketemu aku beberapa hari aja udah kangen, coba kalo satu tahun ato lebih, pasti bisa mati berdiri kamu.. hehehe”
Ejek Melati yang nggak ada bosen – bosenynya.
“Kamu selalu gitu, Mel jawabannya yang kemaren gimana?”
Seketika itu Melati langsung tertunduk lemas, nggak tau kenapa Melati langsung jadi beda, nggak seperti tadi, dia cuma diem dan nggak mau jawab.
“Mel kamu kenapa?”
“Nggak papa kok, maaf Dik, aku nggak bisa, aku nggak bisa jadi pacar kamu.”
“Kalau kamu nggak bisa jawab sekarang nggak pa pa kok, aku bakal tunggu jawaban kamu lagi.”
“Iya dik.. Maaf…”
“Eh aku mau ajak kamu ke suatu tempat, aku jamin, kamu pasti seneng banget, gimana, mau nggak?”
“Kemana? Tapi jangan lama – lama ya.. Aku nggak mau pulang sore soalnya.”
“Iya dech… Tenang aja…”
“Ya udah ayo…”
Dikapun langsung ambil sepeda dia dan merekapun langsung pergi ke tempat yang Dika maksud, sesampainya di tempat itu Melati kaget banget. Ternyata Dika bawa Melati ke taman yang penuh dengan bunga Melati. Dalam hati Melati ngerasa seneng banget, tapi sikap dia tetep lain, dia kayak nggak seneng di ajak Dika ke tempat ini.
“Nah nyampek, gimana tempatnya, kamu sukakan?” Tanya Dika karena liat melati ngelamun.
“Emmm.. Biasa aja, di rumah juga banyakkan bunga melatinya?” Jawab Melati dengan dingin banget.
“Oh nggak suka ya… Apa kita pulang aja nih?”
“Ntar lagi aja, nggak pa pa kok, kan kita udah jauh- jauh kesini.”
Dika Cuma anggukin kepala, dan merekapun saling diam, ngak tau karena malu atau nggak ada yang diomongin, yang jelas Dika ngerasa Melati nggak biasanya kayak gini. Yang dia tau selama ini Melati seneng banget tempat kayak gini, tapi nggak lagi buat sekarang.
Dika cuma bisa diam, dia takut kalau dia ngomong ntar malah nyakitin hati Melati, dan saat itu Dika kaget banget, karena cewek yang ada di samping di tiba – tiba netesin air mata.
“Mel kamu kenapa? Kamu pasti nggak seneng ya aku ajak kesini?”
“Nggak pa - pa kok, ini tadi kena debu aja.” Melati jawab sambil usapin air mata di pipi dia.
“Pulang aja yuk!!”
“Nggak Dik, aku masih pengen disini.. Aku seneng tempat ini.”
“Ya udah kalo gitu, emang kamu kenapa sih? Cerita dong sama aku!”
Tanpa jawab sama satu patah kata pun Melati langsung peluk Dika, dalam hati Dika bertanya – tanya, kenapa Meleti kayak gini? Kenapa Melati nggak mau cerita apa pun ke dia? Dika ngerasa pelukan itu tulus dan penuh rasa sayang, Dika ngerasa tambah sayang banget sama Melati.
Setelah beberapa jam mereka menikmati tempat itu, akhirnya merekapun beranjak pulang. Dan seperti biasa, Dika langsung nganterin Melati pulang ke rumah dan dia juga langsung pulang ke rumahnya.
***
Sesampainya di rumah, Dika kepikiran terus sama Melati, Melati disms tapi nggak mau bales, Dika cuma bisa nunggu, dia nyadarin, mungkin ini semua butuh waktu. Dan nggak semudah itu untuk bisa sayang sama orang, tapi dalam hati sebenernya Dika yakin kalau Melati juga sayang sama dia, tapi kenapa Melati nggak mau ngakuin itu? Dika pengen tau tentng ini semua, Dika ngerasa ini nggak adil buat dia.
Beberapa hari selanjutnya Dika berusaha cari tau lagi tentang Melati, kebetulan Dika kenal sama salah satu temen Melati, jadi dia tanya ke anak itu semua tentang Melati, tapi hasilnya nihil karena anak itu nggak mau ngasih tau apa – apa sama Dika, Dika jadi bertanya – tanya, sebenarnya ada apa ini? Kenapa semuanya jadi gini? Melati kenapa? melati sekarang jadi sosok yang tertutup, nggak seperti yang Dika kenal selama ini. Dika coba buat dateng ke rumah Meleti tapi orang tua Melati selalu ngomong kalau Melati nggak ada di rumah dan orang tuanya juga nggak mau bilang kemana Melati pergi. Dika cuma bisa pesen ke orang tua Melati kalau Dika nyariin dan Dika semakin sulit untuk hubungin Melati karena orang tua Melati juga bilang kalau Hp Melati rusak dan dijual.
Beberapa hari kemudian akhirnya penantian Dika usai juga, Melati tiba – tiba telpon Dika.
“Halo..” Jawab Dika.
“Halo, Dika ya..?”
“Iya, ini siapa? Dika yang nggak tau kalau itu suara Melati, karena nomor yang di buat telpon baru di Hp Dika.
“Wah udah lupa ya? Dika jahat banget.. masak bauku nggak kecium dari situ?”
“Melati…” Dika langsung sadar karena ucapan Melati, karena kata – kata itu yang selalu di ucapin Melati kalau seseoarang lupa – lupa ingat sama dia.
“Tuh inget, gimana kabar kamu? Maafin aku sekali lagi ya, aku ngilang – ngilang terus.. hehehe”
“Iya Mel, emangnya kamu kemana aja sih selama ini? Kamu udah nggak mau kenal aku lagi ya?”
“Kamu kok bilang gitu sih? Aku akhir – akhir ini sibuk banget, jadi nggak pernah ada di rumah.”
“Oh gitu ya, ini tadi tumben telpon aku?”
“Aku kangen sama kamu, makanya ini tadi telpon,, hehehe”
“Ah masak? Aku yang kangen banget sama kamu, baru kali ini aku denger kalau kamu kangen sama aku, tambah sayang nih aku..hehehe”
“Hehehe ada yang kena tipu, siapa juga yang kangen sama kamu, aku cuma pengen aja telpon kamu, pumpung lagi nganggur….hehehe”
“Yah kamu gitu ya, selalu ngerjain aku…”
“Maaf – maaf, akukan cuma becanda.. Eh iya,, aku hari minggu pengen mingguan, maen yuk!”
“Kemana? Aku sih ayo aja..”
“Ke tempat kemaren, gimana?”
“Emmm… boleh juga!”
“Ya udah kalo gitu, aku mau keluar bentar, udah dulu ya?!”
“Mau kemana?”
“Mau tau aja….!! Udah dulu ya.. Assalamu’alaikum….”
“Walaikumsalam…”
Dika ngerasa seneng banget, Dika ngersa kalau Melati nggak seperti yang dia pikir selama ini, Melati udah kayak dulu lagi, pikiran Dika jadi sedikit tenang, nggak nyangka ternyata Melati yang dulu bisa balik lagi.
Beberapa hari ini hubungan Melati sama Dika berjalan lancar, Dika bisa smsan dan telpon – telponan sama Melati, Dika makin optimis kalau Melati emang sayang sama dia, dan hari yang mereka tunggu – tungu akhirnya dateng. Mereka ketemu seperti biasa dan di tempat yang sama waktu mereka terakhir ketemu, dimana lagi kalau nggak di taman yang banyak banget bunga melatinya.
Sesampainya di taman itu Dika dan Melati barcanda canda seperti biasa, kali ini Dika liat Melati seneng banget, Dika nggak mau lewatin moment ini, jadi Dika ngajak Melati seneng – seneng dan bikin Melati selalu bisa senyum. Dan di mata Melati, Dika bisa liat kalau Melati juga sayang sama dia, dan Dika optimis banget kalau hari ini Melati bakal akhirin penantian Dika selama ini.
Setelah bercanda – canda sampai capek akhirnya mereka pengen cari tempat duduk yang dingin untuk istirahat, karena tempat itu panas banget. Dan di sebuah tempat duduk.
”Mel aku seneeeeeng banget hari ini.. Makasih banget ya?””
“Makasih buat apa? Aku juga seneng kok Dik, kapan lagi bisa gila – gilaan kayak gini, iyakan?”
“Yupz bener banget…”
“Dik panas banget ya hari ini, jadi pusing kepalaku..”
“Iya Mel, pusing kenapa emangnya?”
“Nggak pa – pa kok.” Melati langsung sandarin kepalanya di bahu Dika.
“Mel..” ucap Dika pelan.
“Iya..”
“Aku sayang banget sama kamu…” Ucap seorang cowok yang ada di samping dia.
“Iya aku tau, trus kenapa?” Melati yang langsung angkat kepala dia.
“Aku pengen kamu jadi orang yang special buat aku, kamu maukan?”
“Maaf Dik aku nggak bisa… Aku pengen sendiri..”
“Kenapa Mel? Apa kamu nggak bisa ngerti perasaanku? Aku tau, aku emang nggak pantes buat kamu, kamu terlalu baik buat aku.”
“Bukannya gitu Dik, aku pengen sendiri aja sekarang.. aku nggak mau mikirin cowok.”
“Aku kecewa sama kamu Mel.” Ucap Dika yang nggak sengaja nyinggung perasaan Meleti.
“Ya udah , aku emang orang yang jahat, nggak bisa ngertiin orang.” Jawab Melati dengan nada yang sinis.
“Kamu kok gitu? Aku cuma pengen jadi orang yang special buat kamu, tapi kenapa sih kamu nggak mau? Alasan kamu itu nggak masuk akal Mel.”
“Aku harus bilang berapa kali lagi sih? Aku nggak bisa Dik, dan itu emang kenyataannya, aku pengen sendiri dulu, ya udah kalau kamu nggak bisa ngerti?”
“Aku tau Mel, kamu sebenernya sayang sama aku, tapi kenapa kamu nggak mau akuin hal itu?”
“Udah, aku rasa ini yang terbaik buat kita, suatu hari nanti kamu bakal ngerti kenapa aku nggak mau terima kamu.”
“Aku bakal nungguin kamu sampai kapan pun Melati…aku tau banget kalau kamu emang sayang sama aku, kenapa se kamu harus bohongin perasaan kamu?”
“Kamu nggak bakal bisa ngerti Dik, lebih baik sekarang kita pulang aja, nggak ada gunanya lagi kita lama – lama disini.”
Melati langsung ngajak Dika pulang dan Dika pun nurutin apa kemauan Melati itu. Suasana yang tadinya seneng sekarang berubah jadi api yang seakan akan bakar hati mereka, Dika sedih banget, ternyata dugaan dia dan rasa optimisnya selama ini nggak ada artinya. Begitu juga yang dirasain Melati, dia jauh lebih sedih daripada Dika, karena dia harus bohongin perasaan dia dan juga Dika.
***
Dan seiring berjalannya waktu Dika dan Melati semakin jauh, dika nggak penah hubungin Melati, begitu juga Melati,, mungkin emang kejadian waktu itu yang buat mereka kayak gini, tapi apa boleh buat, ini semua takdir dari Tuhan. Setelah beberapa bulan Dika ketemu sama temen deket Melati di sebuah supermarket, Dika iseng – iseng nanyain kabar Melati.
“Rin gimana kabar Melati sekarang?”
“Ya Tanya aja sama keluarga Melati!” Rini jawab judes sama Dika nggak tau kenapa.
“Lhoh kamu kok jawabnya gitu sih? Kamu kenapa Rin?” Jawab Dika yang heran dengan sikap Rini.
“Kamu tanya aja sama diri kamu sendiri, kalo kamu punya hati pasti kamu bisa jawab, udah ya aku udah selesai nih, aku pulang dulu…”
Setelah itu Rini langsung pulang, Dika bingung banget sama sikap Rini. Apa dia buat salah sama Rini? Ada apa sama Melati? Kok Rini di tanya jawabnya gitu.
Setelah Dika selesai dari supermarket dia penasaran banget dan punya niat buat kerumah Melati. Sesampainya di rumah Melati dia liat sepi banget, apa keluarga Melati nggak ada di rumah? Tanpa pikir panjang Dika langsung turun dari sepeda dan langsung nuju ke pintu, dan dipencetnya langsung bel rumah itu.
Ting tung ting tung
“Iya sebentar..” Kedengeran suara perempuan dari dalam dan kayaknya itu mamanya Melati.
Nggak lama akhirnya si pemilik suara itupun keluar dan bukain pintu. Setelah dibukanya pintu itu.
“Eh Dika, ada apa Dik?”
“Maaf tante, Melatinya ada?”
“Oh nyari Melati, ayo masuk dulu… Silahkan duduk…”
“Iya tante,, makasih…”
“Sebentar ya Dik, tunggu dulu..” Mama Melati langsung masuk dan kemudian keluar bawa sepucuk surat.
“Ini buat kamu..” Mama Melati lansung ngasih sepucuk surat sama Dika.
“Apa ini tante? Melatinya mana?”
“Udah baca dulu… “
Dika langsung buka amplop surat itu dan dalam amplop itu berisi tujuh kuntum bunga melati yang udah kering dan selembar kertas yang berisi tulisan yang amat rapi, Dika pun langsung baca surat itu.
***
Dear dika,
Mungkin kamu baca surat ini saat bunga melati ini udah layu, dan begitu juga rasa yang kamu miliki sama aku. Tapi itu semua nggak sebanding sama rasa sakit yang aku gores di hati kamu.
Dika, mungkin ini terlambat, dan mungkin udah nggak ada gunanya lagi. Cuma lewat surat ini aku bisa ngomong apa yang sebenarya. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, sebenernya aku nggak mau, tapi mungkin ini udah kehendak Tuhan.
Dika….
Maaf atas salah yang aku buat selama ini
Maaf aku nggak bisa ngisi hati kamu
Maaf aku nggak pernah bisa jujur sama perasaanku
Maaf aku nggak bisa jadi melati yang harum buat kamu
Maaf aku harus ninggalin kamu
Jujur, aku sayang, sayang banget sama kamu
Cuma kamu Dik yang buat aku semangat untuk tetap bertahan
Cuma kamu orang pertama yang aku sayang
Makasih kamu udah sayang banget sama aku
Makasih kamu udah jadi pengisi hati aku
Makasih kamu beri aku perhatian yang nggak penah aku rasain sebelumya
Makasih kamu udah ngasih aku hari – hari yang indah
Makasih kamu tetep jaga putihnya melati ini
Dika, aku pengen kamu bisa gantiin posisiku di keluarga ini, aku pengen kamu bisa bahagiain orang tuaku karena aku nggak bisa bahagiain mereka. Dan aku harap kamu bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari aku dan sucinya lebih dari seputih melati. Dan jangan takut buat berharap, karena Tuhan tahu apa keinginan kamu dan dia pasti bisa wujudin harapan kamu itu.
Dika sepucuk surat ini yang mewakili semuanya, dan aku nggak pengen kamu tau tentang aku, dan disaat aku pergipun aku nggak mau kamu tau, aku nggak mau bikin kamu sedih, dan aku nggak mau siapapun ada yang ngasih tau kamu karena aku yakin Dik kalau kamu bakal dateng kesini. Itu semua karena cinta kita, aku yakin banget.
Sekian Dik, aku harap kamu bener – bener maafin aku dan relain aku buat pergi tinggalin kamu.
Rasa ini akan abadi di dalam hati ini, meski nafas ini dan raga ini nggak ada lagi. I LOVE U Dika…
***
Tak terasa air mata Dika pun mengalir pelan di pipi dia, Dika sedih banget, penyesalan itu besar banget, Dika nggak nyangka kalau semua ini bakalan terjadi. Dika pun langsung menanyakan kepada mama Melati apa yang sebenarnya terjadi.
“Tante, Melati sebenarnya kenapa?”
Dengan terus menahan air mata yang ingin ngalir, mama Melati pun jawab.
“Melati selama ini sakit…”
“Melati sakit apa?”
“Dia menderita kanker otak sejak dia umur sepuluh tahun.”
“Apa? Kenapa Melati nggak pernah cerita? Dan kenapa Melati nggak mau Dika tau?”
“Dia nggak mau kamu sedih, Melati sudah cerita banyak sama tante tentang kamu, Melati sebenarnya sayang banget sama kamu, sejak ketemu kamu lagi dia jadi punya semanget untuk bertahan, tapi dia juga nggak pengen ngecewain kamu, jadi dia nggak mau kamu tau tentang hal ini. Dulu waktu dia bilang kalau dia ke rumah neneknya sebenarnya dia ke rumah sakit, dia sempat koma selama seminggu. Tapi akhirya dia bisa pulih, dan dia pengen cepet – cepet ketemu kamu.”
“Ternyata Dika jahat banget ya? Dika nggak bisa ngertiin Melati, sampai akhirnya Melati kayak gini.”
“Nggak Dika kamu nggak salah, justru kamu yang bisa beri Melati semangat.”
“Tapi waktu Melati nggak ada, kenapa Dika nggak dikasih tau?”
“Iya maafin tante, sebelum Melati nggak ada dia pesen kalau tante atau siapapun nggak boleh ngasih tau kamu, karena dia yakin suatu hari kamu pasti dateng ke sini untuk nyariin dia.”
“Iya tante Dika ngerti, Dika minta maaf banget..”
“Iya sama – sama, tante juga, dan tolong ikhlasin Melati ya.. yang bisa kita lakuin sekarang cuma berdo’a buat dia.”
“Pasti… Dika pengen nemuin Melati sekarang, dimana makamnya Melati? sekarang juga Dika pengen kesana.”
“Dia dimakamkan di pemakaman desa..”
“Ya sudah, Dika pergi dulu tante..”
“Iya, hati – hati ya…”
Dikapun langsung pergi ke makam Melati, sesampai di makam Melati, Dika naruh bunga Melati yang tadinya ada di surat itu. Dalam hati, perasaan nyesel itu tumbuh, Dika nyesel udah ninggalin Melati.
“Mel aq dateng,, mungkin udah telat, aku minta maaf banget Mel sama kamu... aku emang bodoh banget, udah sia – siain orang yang bener – bener sayang sama aku, aku sekarang baru sadar kalau aku nggak mau kehilangan kamu. Tapi udah nggak ada gunanya lagi, sekarang malah kamu yang ninggalin aku Mel. Aku nggak tau lagi gimana caranya biar aku bisa nebus semua kesalahanku ke kamu. Aku janji aku bakalan sering kesini nengokin kamu. Meskipun aku nggak bisa liat kamu tapi aku bisa rasain kalau kamu ada di sampingku Mel.“
Dika terus saja menangis, dia nggak nyangka kalau bakal di tinggal kayak gini. Sambil air matanya terus mengalir di pipi Dika, dia beranjak ninggalin tempat itu.
***
Sesampainya di rumah, Dika sepertinya tetep nggak percaya hal ini bisa terjadi. Dia nggak nyangka kalu bakalan di tinggal sama cinta pertama dia. Dan tentunya orang yang bener - bener dia sayang. Kenangan – kenangan sama Melati rasanya masih hangat dalam pikiran Dika, saat mereka pertama ketemu, mereka maen sama – sama dan juga saat mereka pergi ke taman melati dan rasa sayang itu di ungkapin.
Tak terasa Dika pun terlelap dalam tidurnya dan dia terbawa dalam sebuah mimpi.
Di sebuah taman yang entah itu dimana, yang jelas taman itu penuh dengan bunga – bunga melati yang sedang mekar, di sebuah sudut taman terlihat seorang cewek yang cantik banget, dia memakai baju putih dan ada rangkaian melati di rambut indah dia, cewek itu tak lain dan tak bukan adalah Melati. Dia jalan deketin Dika yang sedih banget di tengah – tengah taman itu.
“Dika…” Suara itu tiba – tiba terdengar dari belakang dan Dika pun langsung nengok ke belakang.
“Melati..”
“Iya Dik ini aku, kamu kenapa nangis?”
“Kamu kenapa ninggalin aku Mel?”
“Aku nggak ninggalin kamu Dik, emang udah waktunya aku pergi.”
“Tapi kenapa kamu nggak ngomong sama aku?”
“Aku nggak mau kamu sedih, aku pengen kamu cuma rasain seneng disamping aku, maafin aku ya Dik..”
“Aku yang justru minta maaf banget sama kamu, kamu nggak salah kok, aku yang udah salah banget sama kamu.”
“Aku nggak pa – pa kok Dik, mungkin ini udah jalannya… kamu jaga diri baik – baik ya, ntar kamu pasti dapetin orang yang jauh lebih baik dari aku.” Melati pun tersenyum.
Dika langsung tebangun dari tidur dia, dia seneng banget bisa ketemu Melati, meskipun cuma dalam mimpi. Mungkin emang Melati sengaja dateng buat Dika, dan setelah hari itu Dika sering ke makam Melati dan membawakan ratusan kuncup bunga melati untuk Melati. Melati emang sosok yang mungkin emang nggak akan pernah bisa dilupain sampai kapan pun, karena hati Melati seputih bunga melati putih yang amat suci. Dalam hati Dika akan selalu ada Melati dan dalam hati Dika selalu berkata.
“Mel, bukan pertemuan yang aku sesali, tapi perpisahanlah yang aku tangisi.”
Memang tak ada manusia yang tau kapan dia akan ninggalin dunia ini, begitu juga orang yang dia sayang. Selagi kita masih ada apa salahnya buat orang yang ada di samping kita bahagia dengan kehadiran kita. Keep smile for every body….